You're here: My Tips Blog » Ayo Menulis! » Article: Ungkapan Positif

Ungkapan Positif

Ikhlasul Amal — August 10, 2007 / 07:52

Ungkapan positif menggambarkan pikiran penulis yang juga positif.

Ada beberapa cara untuk menunjukkan ungkapan positif kepada para pembaca. Di bawah ini dituliskan tiga buah di antaranya.

Sodorkan pendapat, bukan semata sanggahan. Menyanggah terkadang lebih mudah: ah, jangan begitu, saya tak setuju, dan sejenisnya. Sayangnya, selain ungkapan tersebut akan ditandai dengan kata “jangan” dan “tidak”, penulis tidak menyodorkan alternatif apapun, atau mengajak pembaca pada posisi menolak, titik. Mengapa tidak diganti atau ditambahi dengan bentuk pilihan? Sebagai contoh, alih-alih saya tidak suka warna merah, lebih membuka wawasan dengan pendapat, saya lebih suka biru karena warna ini kalem. Pembaca menjadi tahu preferensi Anda sebagai penulis.

Tunjukkan keahlian Anda. Mengawali kalimat dengan, Saya bukan ahli pada bidang ini, namun… seperti menyambut seorang tamu dengan mengatakan, Kami tidak memiliki teh hangat sekarang… Padahal belum tentu tamu yang bersangkutan datang ke rumah Anda semata-mata karena secangkir teh hangat. Oleh karena itu, lebih baik tunjukkan kemampuan Anda yang lebih spesifik, kendati sedikit. Katakan dengan, Sependek pengetahuan saya akan proses pembuatan tahu, … jika memang pengetahuan Anda pada pembuatan tahu di pabrik, daripada — belum apa-apa — sudah mencanangkan, Saya bukan ahli gizi di sini.

Apakah hal tersebut berpura-pura? Bukan, justru dengan menyebut secara spesifik seperti di atas, penulis memberi “pagar” bahwa kemampuannya masih terbatas dan hal-hal di luar kemampuan dia mohon dicari lewat rujukan yang lain. Sikap tersebut juga santun karena berterus terang akan keterbatasan yang dimiliki.

Hargai pendapat orang lain. Semua pendapat memiliki sisi positifnya, atau setidaknya kemungkina bernilai positif di atas sejumlah asumsi. Pernyataan “minat baca masyarakat masih rendah” dapat dilihat lebih positif dikaitkan dengan kebiasaan membaca yang belum lazim diajarkan semasa kanak-kanak atau dari sisi harga buku masih mahal, sehingga masyarakat perlu menyisihkan dana dalam jumlah besar untuk membelinya.

Apakah tidak ada tempat sama sekali untuk ungkapan negatif? Tentu masih ada: saran saya, letakkan di bagian akhir setelah pemaparan bagian positif.

Yuk, kita coba mempraktikkannya.

Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon

Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.

LOCAL SEARCH

Search only in this blog

GLOBAL SEARCH

Search across Asia Blogging Network

GLOBAL

CHANNEL

COLUMN

More? Go to Asia Blogging Network Column section.

FEATURED

COMMENT

  • rosi — Inspirasi...hem...sebetulnya sering muncul dikepalaku.Banyak ide banyak impian.Aku pernah dapet inspirasi saat on the way home, tepatnya waktu aku lagi duduk ...
  • eRYxzz.. — emang kls 5 SD sdh di ajarin... tapi pas kuliah di kasih tugas bikin kerangka karangan.... ADUH PUSING NICH... gmnA dOngz?...
  • siti rosyidah — salam kenal buat mas
  • nenew — Judul yang lebih lengkap membuat pembaca yakin kalau tulisan kita yang sedang meraka cari, judul yang tidak terarah membuat orang ...
  • Unknown — thanks
  • Green — Aduh...bngung gmana nulis krangka krangan! Cz dri SMP aq plg malez plajarn bhs.ind0. Trus, skrg kuliah dpt tgas bkin krangka krangan! Cpe... D... ...
  • Roy — Salam kenal, Makasih buat tips nya, saya juga mau nulis tapi gimana masukin ke internetnya. Apakah bos punya web or blog ...
  • Nabila zahra cantiq bangetzz — ceritanya bagus bangetzzz. ajarin dungzzz.. caranya
  • fadhil — Asyik banyak ilmu yang aku dapat dari sini
  • Andith — Thanks !!