You're here: My Tips Blog » Ayo Menulis! » Article: Buku Saku: “Don’t Leave Home Without It”
Salah satu penyedia kartu kredit pernah menulis slogan di atas, Don’t Leave Home Without It. Atas dasar alasan penting atau terdapat kemungkinan kita mengalami kejadian yang memerlukan alat bantu pembayaran kartu tersebut.
Demikian juga buku saku atau sering disebut notes. Biasanya berukuran segenggaman telapak tangan orang dewasa, ketebalan sedang, berupa setumpuk kertas polos atau bergaris dijilid. Penulis sangat mungkin tiba-tiba berhadapan dengan keadaan yang perlu dicatat — entah deskripsi lengkap, poin-poin yang penting, atau sekadar sebuah alamat web, alamat email, atau nomor telepon. Kejadian mendadak itu terjadi di sembarang tempat, sulit diprediksi, seperti halnya fotografer membawa kamera dan serentak dia mengarahkan kamera pada objek yang dianggap istimewa. Di buku masa kanak-kanak saya, berjudul Kehidupan dan Kesenggangan, terbitan Time-Life, terdapat tip untuk calon penggambar yaitu membawa kertas sketsa ke manapun dia pergi.
Jadi bawalah selalu buku saku. Tentu perlu disertai pena atau potlot — bagaimana akan diisi jika pasangan tersebut terlupa?

Bukankah sekarang sudah banyak tersedia pencatat elektronik di telepon genggam, PDA, atau alat bantu lain? Betul dan itu juga dapat dimanfaatkan, namun seringkali kertas dan alat tulis jauh lebih cepat dan lebih praktis untuk menulis catatan dengan kecepatan tinggi. Gaya penulisan bebas di atas layar PDA dengan pena stylus pun masih kurang lincah untuk tulisan tangan. Bukan berarti mereka kalah total dibanding buku saku; untuk menyimpan senarai kontak hingga ratusan, alat bantu elektronis tentu lebih paten.
Percayalah, Anda tidak sendirian dalam gerakan mengantungi buku saku ke mana pun kaki melangkah.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
Ikuti diskusi, tuliskan komentar Anda.