You're here: My Tips Blog » Ayo Menulis!
Di manakah gerangan makhluk yang bernama inspirasi berada?
Di beberapa tulisan lama tentang kehidupan pujangga disebutkan mereka menggali inspirasi dengan banyak cara: ada yang berjalan-jalan, mengobrol dengan orang lain, melihat panorama, hingga masuk kamar kecil!
Tidak perlu terlalu terkejut, Isaac Newton pun — seorang ilmuwan besar Fisika — digambarkan duduk di bawah pohon apel dan tertimpuk apel, dan tercetuslah penjelasan dia tentang gaya tarik bumi. Demikian pula kisah legendaris Archimedes: dari bak mandi hingga jeritan, “Eureka!”) di jalanan. Soekarno pun diceritakan sedang duduk-duduk di bawah pohon pada saat kelahiran butir-butir Pancasila.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Abdurahman menanyakan perihal “judul yang nendang” — atau memikat. Secara implisit dia kaitkan pengertian memikat tadi dengan sensasional, atau “bersifat membuat sensasi.”
Menurut saya, sensasional adalah bagian dari memikat tadi. Hal ini karena dengan “membuat sensasi” tersebut orang menjadi tertarik untuk melongok, baik isi secara keseluruhan atau cukup paragraf pembuka. Sensasi dilakukan dengan cara melebih-lebihkan dan kemudian dipoles menjadi judul. Dapat berupa mengambil bagian tertentu yang dianggap spot menarik atau memang sengaja mendramatisir. Yang perlu berhati-hati dengan sensasi adalah efek berlebihan perlu rem. Tidak patut — dan dapat dikomplain oleh pembaca — jika berita tentang film misalnya dikesankan di bagian judul sebagai kejadian nyata. Pernah tulisan sebuah latihan anti-teroris dipasangi judul seolah-olah memang sedang terjadi penggrebekan sarang teroris; baru di bagian akhir ditutup dengan anti-klimaks, “Untunglah hal ini hanya terjadi di latihan pasukan anti-teroris.”
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Saya pernah menulis manfaat kamus dengan menyediakannya di meja kerja selama proses penulisan. Selain alternatif membeli edisi cetak (memang perlu mengalokasikan dana ekstra lumayan, namun manfaatnya lebih banyak), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tersedia dalam versi online. Saya agak terlambat memberi tahu situs web penting ini, dari percakapan tentang sebuah lema dengan Herman Saksono.
Sedikit lema yang saya coba periksa dengan membandingkan edisi cetak dan edisi online, isinya sama. Mudah-mudahan demikian dengan semua lema dan nantinya jika terdapat pemutakhiran edisi cetak, edisi online pun ikut dimutakhirkan.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Sebuah kebetulan kecil: selang beberapa jam setelah menulis tetang manfaat kamus untuk penulis, saya terlibat percakapan ringan lewat Yahoo! Messenger dengan Herman Saksono, penulis blog sohor dari Yogyakarta. Herman membuka pembicaraan tentang kamus, menyinggung pilihan kata, trotoar atau trotoir. Dengan mencari lema yang bersangkutan di Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, ditemukan trotoar.
Setelah itu kami mengobrol tentang tesaurus. Saya ingat beberapa bulan lalu saat Tesaurus Bahasa Indonesia diluncurkan, kami pernah juga membicarakan adikarya Eko Endarmoko tersebut. Jadi boleh dikata percakapan kali ini adalah kelanjutannya.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Penulis perlu kamus, sekalipun bahasa yang digunakan di tulisannya adalah bahasa ibu atau bahasa yang sudah dikuasai sehari-hari. Ada beberapa pertimbangan penting akan keberadaan kamus di dekat meja kerja penulis, selain — barangkali — teh hangat dan kudapan.
Adanya acuan yang dijadikan patokan penggunaan kata, istilah, ungkapan, dan semua perniknya. Bahasa sangat mungkin mengalami perubahan — mengikuti waktu atau lokasi, dengan kamus penulis dapat memilih sebuah acuan baku yang diterima dan dimaklumi oleh pembaca. Karena kata sonder sudah terdapat di lema KBBI, penulis dapat menjadikan kamus sebagai referensi pemakaian kata serapa tersebut.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Senarai diperlukan antara lain untuk menjelaskan pemerian dengan lebih baik. Tanda baca koma dapat dipakai untuk memisahkan satu entitas dengan lainnya, seperti:
Mereka menjelajahi hutan, danau, sungai, hingga pantai.
Namun demikian jika yang hendak dipisahkan cukup panjang, atau malah berupa kalimat, senarai lebih tepat digunakan, semisal:
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Ketika membuat sebuah artikel yang kita publikasikan di internet, judul artikel memegang pertanan penting. Di blog ini sudah dibahas mengenai bagaimana penggunaan judul yang baik pada penyediaan halaman web. Sudahkah kita menuliskan judul dengan lebih berarti?
Dengan adanya begitu banyak artikel di internet, pencari informasi banyak mengandalkan layanan mesin pencari untuk mencari rujukan informasi. Sebagai penulis artikel, yang berharap tulisannya mampu menjangkau pembaca yang lebih luas, ada sebuah hal penting yang tidak boleh dilupakan: tulislah judul dengan lebih berarti.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Ungkapan positif menggambarkan pikiran penulis yang juga positif.
Ada beberapa cara untuk menunjukkan ungkapan positif kepada para pembaca. Di bawah ini dituliskan tiga buah di antaranya.
Sodorkan pendapat, bukan semata sanggahan. Menyanggah terkadang lebih mudah: ah, jangan begitu, saya tak setuju, dan sejenisnya. Sayangnya, selain ungkapan tersebut akan ditandai dengan kata “jangan” dan “tidak”, penulis tidak menyodorkan alternatif apapun, atau mengajak pembaca pada posisi menolak, titik. Mengapa tidak diganti atau ditambahi dengan bentuk pilihan? Sebagai contoh, alih-alih saya tidak suka warna merah, lebih membuka wawasan dengan pendapat, saya lebih suka biru karena warna ini kalem. Pembaca menjadi tahu preferensi Anda sebagai penulis.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Judul memang membantu dari sisi teknis penyediaan dokumen di Web, namun selain itu bagian pembuka sebuah dokumen menurut sebagian pihak adalah “perang pembuka” yang menentukan. Bagian penentu inilah yang akan dibahas pada tulisan ini.
Saya pernah baca di sebuah artikel kiat menulis bahwa paragraf pertama sebuah tulisan haruslah menggambarkan secara ringkas isi tulisan tersebut secara keseluruhan. Terus terang, saya pribadi belum dapat dengan ajeg mengikuti arahan tersebut. Saya masih sering menghabiskan bagian awal tulisan untuk beruluk salam, mengajukan pertanyaan semi-retoris, atau malah berputar-putar dulu ke tempat lain.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Perlukah penulis memahami HTML?
Pertanyaan ini kira-kira sama dengan pertimbangan penggunaan bahasa tertentu atau perangkatnya agar lebih dekat dengan pembaca. Bukankah L pada HTML adalah language dan HTML sendiri sudah dinisbahkan sebagai lingua franca di dunia Web? Artinya, penguasaan HTML bagi penulis di media Web jangan dilihat sebagai keharusan yang bersifat paksaan, melainkan keperluan untuk mendapatkan keuntungan lebih.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Search only in this blog
Search across Asia Blogging Network
More? Go to Asia Blogging Network Column section.
XML error: Reserved XML Name at line 2, column 38